Selasa, 02 April 2013

KELU

Tiap hari aku berbicara
Meluapkan rasa lewat kata
Semua yang dirasakan oleh hati
Atas semua yang dialami oleh diri
Bahagia, sedih, marah, kecewa, bangga atau apapun
Ada yang tumbuh, mengakar atau tenggelam tergantikan
Aku ingin selalu menjelmakannya menjadi kata  yang terucap
Namun ada waktu, beberapa waktu
Waktu dimana lidah terasa kelu
Tak dapat menyampaikan apa yang dirasa
Tak melulu karena menahan tangis
Aku sendiri tak tau
Terasa tertahan, tertahan hanya sampai pada hati
Tak tau apa yang musti diucapkan
Tak terejawantahkan kedalam kata
Atau mungkinkah ego yang menghentikan kata?
Agar diri tak meletup-letup seperti petasan?
Aku tak yakin..

Minggu, 17 Maret 2013

Alunan Musik dan Kenangan

Klik 'play' di lepi
Mendengarkan beberapa lagu
Merasakan alunannya
Membawa ku pergi jauh melintasi waktu
Mengingat tentang banyak hal
Banyak
Amat banyak
Bukan tentang betapa menyedihkannya
Atau betapa membahagiakannya
Juga bukan tentang betapa anehnya
Hanya saja.. membuat ku berpikir tentang sebuah makna
Dapat ‘berpikir dan merasa’ sungguh luar biasa
Anugrah dari Sang Maha Kuasa

Selasa, 12 Maret 2013

Menjalani hidup itu.. pilihan

Cita-cita itu.. pilihan. Bagaimana bila semua orang punya cita-cita sama, hoho.. monotonlah dunia. Jadi tak selayaknya kita menganggap remeh cita-cita seseorang.. hidup kan saling melengkapi.
Kuliah atau kerja? Bisa juga kuliah + kerja.. pilihan.
Kapan nikah? Pilihan.
Kerja apa? Pilihan.
Hidup dimana? Pilihan.
Hidup seperti apa? Pilihan.
Hidup itu tentang sebuah pilihan, bukan karena orang lain dan bukan pula bergantung pada orang lain.
Biarkan mereka dengan pilihan hidup mereka, kita dengan pilihan hidup kita.
Kita memang tak punya pilihan atas asal kita, tapi kita punya pilihan mau kemana dan jadi apa kita.
Kita berhak berencana, hasil... biar Allah yang mengeksekusi.
Cukup niatkan dalam hati, ucapkan dengan lisan, tuntaskan dengan perbuatan (iringi doa tentunya).

Senin, 11 Maret 2013

Seperti Angin

Bergerak setiap waktu..
Ada kalanya bergerak cepat,
bergerak pelan,
atau bergerak sewajarnya.
Seperti angin..
Menikmati perjalanannya.
Seperti angin..
Kadang perlu juga membuat keributan dengan badainya.
Mengingatkan diri sendiri, atau orang lain..
Seperti angin..
Menyapa laut lantas bersatu menjadi deburan ombak,
menyenangkan tuk dirasa maupun dipandang,
membisikkan sosok termenung di pantai, bahwa dunia tak sesempit jalan pikirannya..
Seperti angin..
Menemani awan berjalan-jalan sampai di atas daratan,
Hujanpun turun membawa berkah.
Seperti angin..
Senantiasa membawa serta kehidupan,
udara yang kita hirup.
Seperti angin..
Tak harus terlihat,
tindakan kita masih bisa dirasa.

Jumat, 08 Maret 2013

Mengapa tak suka berpolitik?

Politik... dalam lingkup pemerintahan khususnya, orang-orang identik menilai negatif.. sarat KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) dan sebagainya. Ladangnya orang-orang berdasi menyalahgunakan wewenang mereka, katanya.

Well.. saya bukannya tidak sepakat dengan pendapat diatas, memang banyak kasus kejahatan di dunia perpolitikan, namun bukan lantas melupakan sisi-sisi positifnya. Kita masih bisa merasa aman duduk manis di rumah, bermain di taman, jalan-jalan ke mall, atau menjalankan ibadah tanpa gangguan dari pemeluk agama lain misal; beberapa hal tadi tak lepas dari perjuangan orang-orang yang berada di pemerintahan dalam menjalankan dunia perpolitikan.

Saat tarif dasar listrik naik, harga bahan makanan pokok naik, atau harga BBM naik misal... Kebanyakan dari kita mengeluh, mencerca, mengomel, atau sekadar menggerutu dalam hati. Nah itu tadi beberapa contoh dari kebijakan pemerintah yang terlihat merugikan (bagi kita), berdampak secara langsung pada kehidupan kita. Rugi rasanya kalau kita membenci politik (yang dinilai kotor) dengan cara menghindarinya. Semakin kita menghindar, semakin merasa aman sebagian oknum perpolitikan di pemerintahan dalam menjalankan aksi kotornya. Kalau mau benci dengan politik (yang dinilai kotor), bencilah dengan cara turut berpartisipasi memperbaiki politik menjadi bersih (bukan hal yang mustahil, kecuali bagi mereka yang mudah menyerah dengan keadaan).

Jikalau semua orang baik beranggapan bahwa politik itu kotor, kapan dunia perpolitikan akan diisi oleh orang-orang yang baik? Sampai kapan kita akan acuh tak acuh dengan perpolitikan yang mana akhirnya berimbas secara langsung terhadap kehidupan sehari-hari kita? Kita perlu berbenah, perlu berpartisipasi, tak melulu harus terjun langsung dengan menduduki jabatan secara struktural, dengan kita mencontreng saat pemilu misal (jujur sesuai hati nurani), itu berarti kita telah turut berpartisipasi dalam usaha memperbaiki kondisi bangsa ke arah yang lebih baik.